Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-17 00:51:58

Kekuasaan, jabatan, dan kewenangan yang dimiliki seseorang bisa menjadi fitnah yang luar biasa, dan siapa saja yang termasuk kalangan elit dapat terkena fitnah ini karena sejatinya manusia tidak terbebas dari dosa, namun mereka yang berpegang teguh pada iman akan diberi rahmat oleh Allah sehingga tidak terjebak dalam fitnah kekuasaan. Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam bukunya berjudul "Dunia di Tanganku, Akhirat di Hatiku" mengingatkan bahwa fitnah tahta terjadi ketika seseorang merasakan kesenangan dan kecintaan pada kekuasaan sehingga ingin terus memegang jabatannya, dan keinginan inilah yang akhirnya membuat seseorang menghalalkan segala cara agar bisa bertahan.
Cara-cara tidak baik itu kemudian mengakibatkan berbagai hal buruk seperti perselisihan, kebencian, kebohongan, dan kemunafikan, bahkan tak jarang orang-orang saling menjatuhkan hingga saling membunuh akibat fitnah kekuasaan, dan sejarah telah banyak mencatat peristiwa semacam itu. Abu Ubaidah Yusuf mengatakan bahwa saat musim kampanye, politisi berlomba-lomba mengejar kursi jabatan dengan berbagai cara sekalipun harus bertentangan dengan rambu-rambu agama, seperti datang ke dukun, kuburan, melakukan ritual-ritual aneh, suap, hingga mengumbar janji palsu. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Tidaklah dua serigala yang kelaparan lalu dilepas kepada seekor domba lebih merusak agama seorang daripada rakusnya manusia terhadap harta dan takhta." (HR at-Timidzi, Ahmad, Ibnu Hibban, dll. Dishahihkan al-Albani di dalam Shahih Targhib wa Tarhib: 1710 dan disyarah oleh al-Imam Ibnu Rajab).
Perbuatan mengejar dunia tidak ada kata finisnya, dan Abu Ubaidah Yusuf menegaskan bahwa jika hanya menuruti hawa nafsu untuk mengejar dunia, maka akan letih dan lelah dikejar oleh dunia, sedangkan diri terus berlari namun tidak akan pernah sampai pada garis finis untuk berhenti. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, "Pencinta dunia tak akan lepas dari tiga: kegundahan yang terus berlanjut, keletihan yang menerus, dan penyesalan yang tak akan berhenti." (Ighatsatul Lahfan 1/87), dan ia juga berkata, "Semakin cinta manusia terhadap dunia semakin malas dari ketaatan dan amal untuk akhirat sesuai dengan kadarnya." (Al-Fawa'id hlm. 180).
Agar terhindar dari berbagai fitnah dunia, penting bagi kita untuk mengenali jenis fitnah sehingga bisa mewaspadainya, selain itu kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah dan meminta perlindungan dari berbagai macam fitnah, serta memahami bahwa kesenangan dunia adalah sementara dan ada kehidupan akhirat yang lebih kekal. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi, hendaknya kita bisa mengendalikan diri dan nafsu agar tidak diperbudak oleh wanita, harta, atau kekuasaan, dan memastikan di dalam hati tidak ada kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat