Diterbitkan oleh Penulis

Lebaran Anak Yatim: Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial

Tanggal Terbit: 2026-09-17 11:04:41

Lebaran Anak Yatim: Dalil,<strong></strong> Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial

Lebaran Anak Yatim adalah tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia pada bulan Muharram atau bulan Suro, di mana umat Islam menyantuni anak yatim pada tanggal 10 Muharram yang bertepatan dengan Hari Asyura. Tradisi ini kerap menimbulkan pertanyaan mengenai sejarah dan kaitannya dengan Hari Asyura, serta masih menjadi perdebatan karena sebagian kalangan menentangnya namun banyak pula yang melestarikannya. Ustaz Ahmad Zarkasih Lc dalam bukunya "Sejarah Kalender Hijriyah" menuliskan bahwa di Indonesia budaya ini ramai dilakukan hampir di setiap masjid dan majelis taklim yang mengadakan perayaan tahun baru Islam dengan disertai santunan anak yatim, karena bulan Muharram tepatnya tanggal 10 merupakan lebarannya anak yatim.

Tradisi menyantuni dan mengusap kepala anak yatim ini muncul karena banyaknya hadis tentang fadhilah menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram, sehingga tanggal tersebut seolah menjadi tanggal dan bulannya anak yatim. Banyak orang menyebutnya sebagai lebaran karena makna lebaran adalah hari bersenang-senang, dan di tanggal ini anak yatim sedang bersenang-senang karena banyak yang menyayangi mereka. Salah satu hadis yang menjadi dasar tradisi ini berbunyi, "Siapa orang yang menyusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya" (Hadis ke 212 dari kitab Tanbih al-Ghafilin). Dalam redaksi lain dari Riwayat Al-Samarqandi dijelaskan, "Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim dengan tangannya pada hari 'Asyura, maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan setiap rambut yang diusap."

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sultan Fatah Semarang Ustaz Saeful Huda mengatakan bahwa meski hadis di atas menurut ulama sangat lemah, namun secara hakikat menyantuni dan mengusap kepala anak yatim adalah amalan mulia yang dianjurkan dan mampu menjadikan hati lembut. Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan, "Sesungguhnya seorang lelaki mengadu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kerasnya hatinya, Nabi bersabda: 'Berilah makanan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim'" (HR. Ahmad No. 9018). Adapun cara mengusap kepala anak yatim yang benar menurut Al-Munawi adalah diusap dengan lembut dan kasih sayang dari bagian atas ke depan, bukan dengan memutar tangan rata ke seluruh kepala anak yatim. Disunnahkan membaca doa ketika mengusap kepala anak yatim, "Semoga Allah menutup keyatimanmu dan menjadikanmu pengganti yang baik dari ayahmu."

    Peringkat Populer

    Tautan Sahabat