Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-17 13:09:51

CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk kembali melontarkan peringatan keras mengenai masa depan perekonomian Amerika Serikat (AS) yang disebutnya meluncur deras menuju kebangkrutan fatal akibat gunungan utang nasional yang tidak terkendali. Dalam penampilannya di Dwarkesh Podcast, Musk secara blak-blakan menyampaikan kekhawatirannya terhadap kondisi fiskal negara tersebut. Berdasarkan data Departemen Keuangan AS, utang nasional AS kini membengkak hingga menyentuh angka USD39,6 triliun (sekitar Rp713.684 triliun), dengan defisit anggaran mencapai USD1,37 triliun hanya dalam sembilan bulan pertama tahun fiskal 2026.
"Kita 1.000% akan bangkrut sebagai sebuah negara dan gagal sebagai sebuah bangsa, tanpa keberadaan AI dan robotika," tegas Elon Musk pada awal tahun lalu. "Tidak ada hal lain yang bisa menyelesaikan utang nasional ini," ungkap miliarder terkaya sejagat tersebut. Elon Musk menyoroti bahwa beban untuk membayar bunga utang AS saja kini telah melampaui seluruh anggaran pertahanan negara yang berada di kisaran USD1 triliun per tahun. Situasi ini kian memburuk akibat lonjakan pengeluaran militer terkini, di mana estimasi menunjukkan biaya keterlibatan militer dalam krisis perang Iran telah menelan biaya langsung USD37,5 miliar, dengan proyeksi total dampak biaya mencapai USD1,5 triliun.
Pakar kebijakan publik dari Harvard Kennedy School, Linda Bilmes menegaskan bahwa beban bunga utang dari pembiayaan perang ini secara langsung akan dilimpahkan sebagai beban fiskal bagi generasi mendatang. Pandangan Musk diamini oleh pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio yang menyebut AS sedang memasuki fenomena Debt Death Spiral (Pusaran Kematian Utang), yaitu kondisi di mana negara harus meminjam uang hanya untuk membayar bunga pinjaman sebelumnya.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat