Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-17 00:16:47

Ulama fikih, ushul, tafsir dan ilmu kalam, Ja'far Subhani mengungkapkan bahwa sejarah para nabi menunjukkan mereka memulai program reformasi dengan mengundang anggota keluarga terdekat ke jalan yang benar, kemudian memperluas dakwah kepada orang lain. Metode ini pula yang dilakukan Nabi Muhammad SAW segera setelah beliau ditunjuk sebagai nabi, dengan mengajak kaumnya sendiri kepada Islam dan meletakkan fondasi dakwah pada reformasi mereka sesuai perintah Allah dalam QS asy-Syu'ara' 26:213, "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."
"Ibrahim juga mengambil metode yang sama," ujarnya dalam buku berjudul "Ar-Risalah, Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW" yang diterbitkan PT Lentera Basritama pada 2004. Menurutnya, mula-mula Nabi Ibrahim berusaha mereformasi kaum kerabatnya, dan Azar menduduki posisi sangat tinggi di kalangan familinya karena selain terpelajar dan seorang seniman, ia juga ahli astrologi yang kata-katanya sangat berpengaruh di istana Namrud. Ibrahim sadar bahwa apabila ia berhasil meraih Azar ke pihaknya, ia akan merebut benteng terkuat dari para penyembah berhala, sehingga ia menasihatinya dengan cara sebaik mungkin supaya tidak menyembah benda-benda mati, meskipun karena beberapa alasan Azar tidak menerima ajakan tersebut.
Metode argumen dan dakwah para nabi menjadi sangat jelas ketika melihat bagaimana Ibrahim mengajak Azar kepada jalan yang benar sebagaimana termaktub dalam QS Maryam 19:42-45, "Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak menolong kamu sedikitpun. Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, sehingga jadilah kamu kawan setan.'" Sebagai jawaban atas ajakan itu, Azar berkata, "Beranikah engkau menyangkal tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Bertobatlah dari ketololan itu! Kalau tidak, engkau akan dirajam sampai mati. Keluarlah segera dari rumahku!" Ibrahim yang murah hati menerima kata-kata kasar Azar dengan ketenangan sempurna seraya menjawab, "Salam atasmu. Aku akan memohon kepada Tuhanku untuk mengampunimu."
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat