Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-16 08:23:05

Insiden di Wimbledon 2025 memunculkan kembali pertanyaan besar tentang akuntabilitas ketika kecerdasan buatan (AI) mengambil alih peran wasit dan hakim garis. Sebuah panggilan "Out" yang diumumkan sistem otomatis membuat petenis Anastasia Pavlyuchenkova langsung menghentikan permainan karena yakin bola telah keluar, namun beberapa detik kemudian wasit mengumumkan sistem penentuan bola otomatis mengalami kerusakan dan memberikan sinyal pada waktu yang salah, sehingga poin harus diulang karena tidak ada mekanisme untuk meninjau situasi tersebut.
Kejadian ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, turnamen Grand Slam menyaksikan AI menjadi fokus kontroversi, memicu pertanyaan krusial: jika pengambil keputusan akhir adalah algoritma, siapa yang bertanggung jawab ketika algoritma tersebut melakukan kesalahan? Dalam waktu kurang dari satu dekade, AI telah menjadi bagian integral dari sistem perwasitan di banyak cabang olahraga besar, menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan di lapangan.
Dalam sepak bola, VAR menggunakan jaringan kamera yang dikombinasikan dengan teknologi penglihatan komputer untuk menganalisis situasi offside, pelanggaran, atau handball, sementara FIFA menerapkan sistem offside semi-otomatis (SAOT) di Piala Dunia yang menggabungkan sensor di dalam bola dengan puluhan kamera AI untuk melacak pergerakan pemain secara real-time. Sementara itu dalam tenis, Hawk-Eye hampir sepenuhnya menggantikan hakim garis di banyak turnamen besar dengan menggunakan beberapa kamera berkecepatan tinggi untuk membuat model tiga dimensi dari lintasan bola dan menentukan apakah bola berada di dalam atau di luar batas lapangan dengan akurasi hanya beberapa milimeter.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat