Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-17 00:52:19

Ustaz Aghnin Khulqi, dai yang berkhidmat di Dompet Dhuafa, menjelaskan bahwa di dalam Islam atau kalender Hijriyah terdapat 12 bulan, mulai dari Muharram, Safar, Rabiul Awal, hingga bulan Zulhijjah, di mana setiap bulan memiliki maziyah atau keistimewaannya masing-masing, termasuk bulan Muharram yang menempati urutan pertama dalam kalender Hijriyah. Keistimewaan bulan Muharram setidaknya terlihat pada tiga aspek, yaitu penamaannya, julukannya, dan posisinya. Nama Muharram diambil dari bahasa Arab, yaitu bentuk isim maf’ul dari kata harrama-yuharrima, yang artinya mengharamkan atau mulia, sehingga makna singkat dari kata Muharram adalah yang diharamkan atau yang dimuliakan. Korelasi antara keharaman dan kemuliaan itu muncul karena di dalam Islam dan sebagian Jazirah Arab ada beberapa bulan yang diyakini sebagai bulan mulia, dan orang-orang Arab sepakat untuk tidak melakukan peperangan di bulan-bulan tersebut sebagai bentuk memuliakannya, begitupun dengan Muharram yang dinamakan demikian karena bulan ini mulia dan sebab kemuliaannya itu maka peperangan diharamkan atau dilarang.
Dari aspek julukannya, bulan Muharram ternyata memiliki julukan syahrullah atau bulannya Allah, meskipun sebagian orang lebih familiar bahwa syahrullah adalah bulan Rajab, padahal bukan hanya Rajab yang mendapat julukan tersebut tetapi juga bulan Muharram, sebagaimana riwayat Rasul yang berbunyi "Afdlalush shiyami ba'da ramadlana syahrullahil muharram" yang artinya sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah yaitu bulan Muharram. Segala sesuatu yang dimudhofkan atau disandingkan langsung dengan Allah akan memberikan kemuliaan dan keistimewaan pada hal tersebut, seperti contoh kata baitun yang artinya rumah biasa pada umumnya, tetapi jika dimudhofkan dengan Allah menjadi baitullah maka berubah menjadi Rumahnya Allah atau Ka’bah.
Aspek terakhir adalah posisi bulan Muharram yang berada pada urutan pertama, dan hal ini tentu memiliki keistimewaan tersendiri dibanding bulan-bulan lainnya. Jika perayaan tahun baru Masehi dilakukan dengan menyalakan petasan dan kembang api sebagai bentuk kegembiraan menyambut tahun baru, maka di bulan Muharram sebagai pembuka tahun Hijriyah umat Islam mengadakan doa awal tahun yang biasa dilakukan secara berjamaah di musholla atau masjid selepas salat Magrib, sebagai bentuk rasa syukur, harapan, dan doa agar setahun ke depan yang akan dilewati menjadi berkah, selalu didekatkan dengan kebaikan dan ketaatan sekaligus terhindar dari musibah dan dosa.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat