Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-21 22:02:11

Larangan menikah di bulan Muharram masih dipercaya sebagian masyarakat Pulau Jawa, terutama pada bulan Suro atau hari Asyura (tanggal 10 Muharram), karena bulan tersebut dianggap buruk untuk mengadakan hajatan pernikahan. Gus Muwafiq dalam kajiannya menegaskan bahwa anggapan ini merupakan bentuk kesalahpahaman dan takhayul yang justru menjauhkan dari ajaran Islam. "Ini orang yang terkadang salah paham. Orang Jawa ini paling takhayul. Orang yang paling percaya dengan barang-barang yang bikin orang musyrik. Buktinya apa, masak pas bulan Asyura (Suro) enggak berani menikah. Malah orang Jawa mempercayai kalau Nyi Roro Kidul mantu," kata Gus Muwafiq dalam ceramahnya yang ditayangkan Channel Ulama Nusantara lewat Youtube.
Istilah Suro berasal dari 'Asyura (bahasa Arab) yang artinya kesepuluh, kemudian dijadikan sebagai bulan permulaan hitungan dalam takwim Jawa, sementara dalam Islam disebut bulan Muharram, bulan pertama dalam Kalender Hijriyah. Muharram adalah bulan yang telah lama dikenal sejak pra Islam dan termasuk bulan haram yang dimuliakan Allah, kemudian Khalifah Umar Bin Khattab menjadikan penanggalan Hijriyah (Islam) diawali dari bulan Muharram.
Gus Muwafiq menjelaskan bahwa memang ada peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Suro (Muharram), yaitu pada tanggal 10 Asyura pasukan Yazid melakukan pembantaian terhadap cucu-cucu Rasulullah SAW, sehingga seluruh umat Islam berduka dan menjadikan bulan Suro sebagai bulan duka atau bulan belasungkawa. "Jadi tidak ada kaitannya dengan Nyi Roro Kidul mengadakan pesta pernikahan," tegas Gus Muwafiq.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat