Diterbitkan oleh Penulis

Adakah Hubungan Bala Rebo Wekasan dan Bulan Safar Sial?

Tanggal Terbit: 2026-09-19 20:23:31

Adakah Hubungan Bala Rebo Wekasan dan Bulan Safar Sial?<strong></strong>

Rebo Wekasan atau Rabu terakhir di bulan Safar sering dianggap sebagai hari terberat bagi umat manusia karena pada hari tersebut ribuan bala bencana akan turun ke bumi, namun pertanyaannya adalah adakah hubungan hari tersebut dengan kesialan yang disematkan pada Bulan Safar. Pada masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Safar adalah bulan sial, dan anggapan sial (tasa'um) ini telah terkenal pada umat jahiliyah serta sisa-sisanya masih ada di kalangan muslimin hingga saat ini. Bahkan, sebagian orang ahli makrifat termasuk orang yang ahli mukasyafah mengatakan setiap tahun Allah menurunkan bala (bencana) yang berjumlah 320.000 dan kesemuanya diturunkan pada hari Rabu yang terakhir di bulan Safar tersebut.

Abdul Hamid Quds adalah salah satu yang berpendapat demikian, dan pendapat itu disampaikan dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur, sehingga menurutnya Rebo Wekasan akan menjadi hari terberat di sepanjang tahun. Untuk menghindarinya, ahli makrifat ini menyebutkan bahwa barang siapa yang melakukan salat 4 rakaat (nawafil, sunnah), di mana setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali, lalu setelah salam membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun.

Akan tetapi sebuah hadis dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (HR Imam al-Bukhari dan Muslim). Ungkapan hadis laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu bermaksud meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya tanpa bersandar pada ketentuan dari takdir Allah. Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah, dan penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah, namun walaupun keseluruhannya kembali kepada Allah bukan semata-mata sebab penularan, manusia tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala musibah, dan dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda: "Janganlah unta yang sakit didatangkan pada unta yang sehat".

    Peringkat Populer

    Tautan Sahabat