Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-16 21:27:56

Di era digital seperti sekarang, akses terhadap ilmu agama menjadi semakin mudah berkat internet, media sosial, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI), di mana beragam ceramah, kajian, dan fatwa dapat diakses hanya melalui telepon genggam dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut tidak boleh membuat seorang muslim mengabaikan adab dan etika dalam menuntut ilmu, karena dalam tradisi Islam, belajar agama tidak cukup hanya mengandalkan internet atau media sosial. Seorang penuntut ilmu tetap membutuhkan guru yang memiliki kapasitas keilmuan dan sanad yang jelas agar pemahaman yang diperoleh tidak menyimpang, sebab hubungan antara guru dan murid memiliki kedudukan penting dalam proses menuntut ilmu, di mana seorang guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing akhlak, meluruskan pemahaman, serta menjaga murid dari kesalahan dalam memahami ajaran agama.
Islam mengajarkan agar setiap persoalan agama dikembalikan kepada orang yang benar-benar memiliki ilmu, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Anbiya ayat 7: "Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Anbiya: 7). Ayat ini menjadi landasan bahwa ketika menghadapi persoalan agama, seorang muslim hendaknya bertanya kepada ahludz dzikr atau orang yang memiliki kompetensi ilmu, karena internet maupun teknologi AI tidak dapat menggantikan peran ulama dan guru dalam menjelaskan persoalan-persoalan agama yang membutuhkan pemahaman mendalam. Allah SWT juga mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak didasari ilmu dalam firman-Nya di Surah Al-Isra ayat 36: "Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra: 36), yang mengandung pesan agar setiap muslim berhati-hati dalam menerima informasi, termasuk ilmu agama yang diperoleh melalui media sosial maupun internet, sebab semua yang dipelajari dan diamalkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Dalam khazanah Islam, keberadaan guru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses menuntut ilmu, di mana sanad keilmuan menjadi salah satu ciri utama yang menjaga kemurnian ajaran Islam dari generasi ke generasi. Dalam kitab Ta'lîm al-Muta'allim, Imam Az-Zarnuji mengutip syair yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tentang enam syarat memperoleh ilmu: "Ketahuilah, ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam hal, yaitu kecerdasan, ketekunan, kesabaran, biaya, petunjuk guru, dan waktu yang lama."
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat