Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-16 19:39:30

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tercatat mengikuti puluhan peperangan sepanjang masa dakwahnya, namun perang yang beliau pimpin bukanlah ekspansi untuk menaklukkan wilayah atau memaksa orang masuk Islam, melainkan sebagai respons terhadap ancaman, penindasan, dan agresi yang dilakukan musuh terhadap kaum Muslimin. Sejarah mencatat, Nabi Muhammad SAW mengikuti sekitar 27 peperangan (ghazwah) selama hidupnya, dan dari jumlah tersebut hanya sebagian yang benar-benar melibatkan beliau di medan tempur, sedangkan sisanya lebih banyak berupa pengaturan strategi dan kepemimpinan pasukan.
Imam Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim ats-Tsa'labi dalam kitab Al-Kasyfu wal Bayan 'an Tafsiril Qur'an menjelaskan bahwa peperangan pada masa Rasulullah SAW terbagi menjadi dua kategori, yakni peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi dan peperangan yang dipimpin para sahabat atas penugasan beliau. Dalam literatur sejarah Islam, kedua jenis peperangan itu dikenal dengan istilah ghazwah dan sariyah, di mana ghazwah merupakan peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, sedangkan sariyah adalah ekspedisi militer yang dipimpin sahabat berdasarkan perintah Nabi.
Para sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai jumlah peperangan pada masa Rasulullah SAW, di mana ats-Tsa'labi menyebut jumlah ghazwah sebanyak 26 peperangan, sedangkan ahli sejarah terkemuka Ibnu Hisyam mencatat terdapat 27 ghazwah yang diikuti Rasulullah SAW. Meski demikian, Rasulullah tidak selalu turun bertempur secara langsung, dan dari seluruh ghazwah tersebut hanya sembilan peperangan yang beliau pimpin sekaligus ikut berada di garis depan pertempuran, yaitu Perang Badar al-Kubra, Perang Uhud, Perang Khandaq (Ahzab), Perang Bani Quraizhah, Perang Bani Musthaliq, Perang Khaibar, Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah), Perang Hunain, dan Perang Tabuk, sementara peperangan lainnya lebih banyak berupa pengawasan, penyusunan strategi, dan pengiriman pasukan yang dipimpin para sahabat.
Ulama sejarah Ali Muhammad ash-Shallabi menjelaskan bahwa syariat jihad dan peperangan dalam Islam tidak turun sekaligus, melainkan berlangsung secara bertahap sesuai kondisi umat Islam saat itu. Selama sekitar 13 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW beserta para sahabat tidak diperintahkan mengangkat senjata meskipun mengalami berbagai bentuk penyiksaan, boikot ekonomi, intimidasi hingga pengusiran dari kampung halaman mereka.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat