Diterbitkan oleh Penulis

Anak 6 Tahun Meninggal Usai Uji Rekayasa Gen China

Tanggal Terbit: 2026-09-16 13:49:02

Anak 6 Tahun Meninggal Usai Uji Rekayasa Gen China

Seorang anak perempuan China berusia enam tahun meninggal dunia setelah menjalani terapi gen eksperimental untuk kondisi yang tidak mengancam jiwa, memicu penyelidikan dari pihak universitas yang menaungi ilmuwan yang terlibat dalam uji coba rekayasa genetik tersebut. Berdasarkan investigasi yang dilakukan Science dan Retraction Watch, anak yang diberi nama samaran "Mei" itu meninggal pada Maret 2025, hanya seminggu setelah menerima infus tulang belakang yang mengandung triliunan virus yang dirancang untuk menembus otak guna memperbaiki kondisi genetik langka yang menyebabkan gangguan kognitif ringan.

Menurut laporan investigasi tersebut, orang tua "Mei" yang membayar lebih dari USD800.000 atau setara lebih dari Rp14 miliar untuk mendanai eksperimen ini tidak mendapatkan informasi yang memadai mengenai risiko yang dihadapi anak mereka. Peneliti utama kemudian menerbitkan makalah tentang studi hewan terkait di jurnal bergengsi Nature tanpa menyebutkan nama "Mei", hanya mencatat bahwa "menjembatani kesenjangan antara penelitian praklinis dan translasi klinis tetap menjadi tantangan yang signifikan."

Kematian yang sebelumnya tidak diungkapkan ini menjadi pukulan baru bagi ambisi China untuk menyaingi Amerika Serikat sebagai kekuatan bioteknologi, terutama setelah skandal tahun 2018 seputar He Jiankui, ahli biofisika yang secara diam-diam menghasilkan bayi hasil rekayasa genetika. "Mei" diketahui mengidap kondisi genetik langka yang disebut sindrom Snijders Blok-Campeau, sebuah penyakit yang hanya menyerang 237 orang di seluruh dunia. Kondisi ini disebabkan oleh mutasi satu basa DNA, yaitu T yang seharusnya C, dan sebagian besar individu yang terkena memiliki harapan hidup normal dengan ukuran kepala lebih besar dari normal serta defisit intelektual yang tingkatnya sangat bervariasi.

    Peringkat Populer

    Tautan Sahabat