Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-16 16:16:29

Jakarta terasa lebih gerah dari biasanya belakangan ini, dan hal itu dikonfirmasi langsung oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyusul fenomena hawa panas yang dipicu oleh posisi kulminasi matahari yang bergerak tepat di atas cakrawala Pulau Jawa, terlebih saat Indonesia sedang memasuki musim kemarau.
Sebelum memasuki fase lonjakan suhu ekstrem pada pengujung September, wilayah ibu kota akan terlebih dahulu dihadapkan pada karakteristik udara kering yang disertai berkurangnya tingkat kelembapan sepanjang Juli hingga Agustus. Kombinasi antara penurunan kelembapan udara di pertengahan tahun dan kenaikan temperatur pada Oktober merupakan siklus iklim tahunan yang khas melanda kawasan hilir Pulau Jawa saat berada di pusat puncak musim kemarau.
Dampak dari fenomena El Nino tahun ini juga diproyeksikan mempertegas durasi cuaca panas tersebut, dengan Jabodetabek secara umum dipastikan mengalami periode musim kemarau yang berlangsung jauh lebih panjang dari kondisi normal. Selain berdampak pada anomali suhu dan perpanjangan musim kering, hantaman El Nino di wilayah ibu kota ini juga berimbas langsung pada penurunan kualitas udara akibat berkurangnya intensitas curah hujan.
Dengan cuaca panas yang lebih panjang, BMKG mengimbau masyarakat di kawasan kota megapolitan ini untuk mengantisipasi perubahan pola cuaca dengan menjaga kondisi kesehatan fisik, asupan makan-minum serta merujuk pada saluran informasi cuaca resmi pemerintah saat beraktivitas. Cuaca panas ekstrem yang melanda Jakarta juga menimbulkan kekhawatiran di sektor kesehatan, di mana Wamenkes Dante Saksono Harbuwono mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko heat stroke yang bisa terjadi akibat paparan panas berlebih dalam waktu lama.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat