Diterbitkan oleh Penulis

Transisi Kehancuran Menuju Kejayaan: Why Nations Fail?

Tanggal Terbit: 2026-09-17 11:22:05

Transisi Kehancuran Menuju Kejayaan: Why Nations Fail?<strong></strong>

Ketua Dewan Pakar KPPMPI sekaligus Kandidat Doktor Universitas Airlangga menyoroti kualitas tata kelola sebagai penentu utama antara kejayaan dan kehancuran suatu bangsa dalam sebuah analisis yang memadukan pemikiran modern Barat dengan kearifan profetik Timur. Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam mahakaryanya Why Nations Fail menegaskan bahwa kemunduran sistemis lahir dari institusi politik dan ekonomi yang ekstraktif, sebuah kondisi di mana kekuasaan dan kekayaan hanya diperas untuk memuaskan segelintir elite penguasa.

Jauh berabad-abad sebelumnya, Nusantara telah mencium aroma pembusukan sosiopolitik ini melalui Pitutur Jangka Jayabaya yang secara presisi menjabarkan datangnya zaman Kalabendu, sebuah era kegelapan moral ketika hukum dipermainkan, kebenaran dijungkirbalikkan, dan rakyat kecil dipaksa meratap di tanah airnya sendiri. Hari ini paradoks tersebut nyata membentang di tengah megahnya retorika pembangunan, di mana denyut nadi kehidupan masyarakat kecil di Indonesia justru terasa semakin tercekik dan meranggas.

Impian luhur para pendiri bangsa dalam Undang-Undang Dasar 1945 kian hari kian mengalami distorsi struktural, dan amandemen demi amandemen dinilai telah bergeser menjauhi kompas moral aslinya, mengaburkan tujuan suci bernegara: memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ketika konstitusi tidak lagi menjadi perisai bagi kaum papa melainkan instrumen legalisasi kepentingan oligarki, sebuah bangsa sedang berjalan dengan mata tertutup menuju ambang kepunahan peradaban.

Teori kontrak sosial menegaskan bahwa kedaulatan sejati tidak pernah berada di kursi-kursi empuk kekuasaan, melainkan di tangan rakyat yang sadar akan hak-hak kemanusiaannya. Transisi dari kehancuran Kalabendu menuju kejayaan Kalasuba bukanlah kebetulan sejarah, melainkan buah dari keberanian kolektif untuk meruntuhkan sekat-sekat ekstraktif dan membangun fondasi inklusif yang berkeadilan, di mana keadilan sosial bukan lagi sekadar pemanis teks konstitusi melainkan realitas hidup yang menghidupkan seluruh jiwa bangsa.

    Peringkat Populer

    Tautan Sahabat