Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-17 13:11:30

Ekonomi Iran disebut tidak akan runtuh meski negara itu menghadapi kombinasi sanksi ekonomi berlapis, perang, dan ketegangan militer dengan Amerika Serikat serta Israel pada 2026. Ekonom Kesejahteraan, Hadi Kahalzadeh, menilai tekanan seberat apa pun tidak akan membawa negara berpenduduk lebih dari 92 juta jiwa itu ke titik keruntuhan dalam waktu dekat, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Kamis (30/7/2026).
Kahalzadeh mendefinisikan keruntuhan ekonomi sebagai kondisi ketika kelaparan meluas, negara kehilangan kemampuan membayar pegawai, dan layanan dasar tidak lagi berjalan. Menurut dia, Iran memang mengalami tekanan berat tetapi tidak mencapai tahap itu karena membangun ekonomi domestik yang relatif terdiversifikasi untuk ukuran eksportir minyak besar. Ketergantungan pada minyak berkurang berkat sektor pertanian, manufaktur, dan jasa, sementara perdagangan bayangan minyak, jaringan lintas batas, dan pasar kerja informal ikut menopang ketahanan ekonomi.
Namun, ketahanan itu dibayar mahal oleh masyarakat. Inflasi diperkirakan mencapai sekitar 90%, harga pangan melonjak, dan nilai tukar rial terus melemah terhadap dolar AS. Di tengah situasi itu, upah minimum bulanan dilaporkan masih di bawah USD100, sementara pemerintah hanya memberikan subsidi tunai dan kupon elektronik untuk tambahan kebutuhan pokok.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat