Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-16 20:36:09

Masyarakat Arab jahiliyyah dahulu mempercayai Bulan Safar sebagai bulan sial yang penuh kemalangan dan hal-hal buruk, keyakinan ini bahkan masih bertahan hingga masa Rasulullah SAW. Bulan kedua setelah Muharram ini secara bahasa berasal dari kata Shifr (صفر) yang berarti kosong, merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab zaman dulu yang bepergian meninggalkan rumah untuk mengumpulkan makanan atau keperluan perang, namun sebagian juga mengartikannya sebagai penyakit dalam perut berbentuk ulat besar yang mematikan sehingga dianggap sebagai bulan nahas.
Mengutip laman MUI, kepercayaan bahwa Safar mendatangkan kesialan termasuk jenis khurafat atau cerita rekaan dan khayalan sebagaimana disebutkan dalam buku Pokok-Pokok Akidah yang Benar karya H A Zahri. Rasulullah SAW membantah keyakinan tersebut melalui hadis riwayat Al-Bukhari yang berbunyi: "Tidak ada kesialan karena 'Adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi) dan tidak pula Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat)."
Muhammad Khoirul Huda dalam bukunya Ilmu Matan Hadis menyitir keterangan Abu 'Ubaid bahwa Rasulullah SAW sedang mengkritik keyakinan khurafat kaum jahiliyyah yang menganggap kesialan, keburukan nasib, dan mara bahaya disebabkan hal di luar takdir Allah seperti pengaruh wabah maupun musim atau waktu tertentu. Kepercayaan semacam itu bukanlah ciri orang beriman, sebab seorang mukmin meyakini segala rahasia peristiwa hanya dalam genggaman Allah dan tidak ada suatu kejadian melainkan atas kehendak serta rencana-Nya, sehingga tidak ada alasan untuk membenci bulan Safar atau menahan diri dari urusan hidup seperti pada bulan-bulan lainnya.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat