Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-17 02:34:37

Warga Palestina berusia 19 tahun yang tinggal di Israel, Salma, mengaku terkejut setelah manajernya mengirim pesan ke grup WhatsApp staf yang menginstruksikan karyawan untuk mengakui larangan berbicara bahasa Arab di toko mereka. Salma dan rekan-rekannya awalnya menganggap instruksi itu tidak masuk akal dan memilih untuk mengabaikannya, namun keesokan harinya mereka merasa takut dan mencoba untuk tetap diam saat bekerja.
Menurut laporan Middle East Eye, insiden memuncak ketika seorang rekan kerja Salma berbicara dalam bahasa Arab sambil mengatakan bahwa dia sedang membawa sebuah kotak ke gudang, bahkan menggunakan kata Ibrani untuk "gudang" yang menunjukkan konteks pekerjaan. Manajer toko tersebut langsung bereaksi dengan berteriak, menendang kotak-kotak, dan menegaskan larangan berbicara bahasa Arab. "Dia mengatakan kepada kami: 'Ini adalah negara Yahudi. Di sini kita hanya berbicara bahasa Ibrani. Bahasa Arab tetap di rumah,'" kenang Salma.
Pengalaman Salma merupakan salah satu dari beberapa kasus yang dilaporkan dalam beberapa bulan terakhir oleh pekerja Palestina yang mengaku dilarang berbicara bahasa Arab di tempat kerja, mencakup rumah sakit, apotek, dan toko ritel. Salah satu kasus terbaru melibatkan seorang karyawan Palestina di cabang Good Pharm di Jaffa, di mana media lokal menerbitkan pesan WhatsApp berisi ancaman manajer terhadap pekerja yang berbicara bahasa selain Ibrani dengan alasan mendengar bahasa Arab dapat membuat pelanggan yang trauma akibat serangan 7 Oktober merasa tidak nyaman. Good Pharm menyatakan bahwa mereka mempekerjakan dan melayani orang-orang dari semua lapisan masyarakat serta berkomitmen pada kesetaraan, dan akan menangani perilaku manajer tersebut secara internal, namun para pekerja Palestina menilai sedikit yang berubah. Dalam kasus Salma, seluruh karyawan toko adalah orang Palestina dan manajer merupakan satu-satunya warga Israel Yahudi yang hadir.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat