Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-19 19:38:19

Islam sebagai agama yang dibangun di atas pondasi tauhid tidak mengenal konsep buang sial, karena kepercayaan bahwa ada benda, hari, angka, atau seseorang yang dapat mendatangkan kesialan termasuk bentuk khurafat (tahayul) yang tidak memiliki landasan syariat. Dalam pandangan Islam, tidak ada sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat maupun mudarat kecuali atas izin Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan apa yang sering dianggap sebagai kesialan sejatinya merupakan bagian dari takdir, ujian, atau akibat dari perbuatan manusia sendiri.
Islam mengajarkan bahwa setiap musibah yang menimpa manusia terjadi atas kehendak Allah dan mengandung hikmah, sehingga seorang Muslim tidak boleh meyakini bahwa dirinya, orang lain, angka tertentu, atau suatu tempat menjadi penyebab datangnya kesialan. Keyakinan merasa diri selalu bernasib buruk atau membawa sial termasuk bentuk at-tathayyur (thiyarah), yaitu meyakini adanya pertanda buruk dari sesuatu, seperti menganggap angka 13 membawa sial atau mempercayai berbagai mitos yang tidak memiliki dasar syariat. Para ulama menjelaskan bahwa at-tathayyur termasuk syirik ashghar (syirik kecil) karena dapat merusak kesempurnaan tauhid seorang Muslim, sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisa: 48: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki."
Secara bahasa, at-tathayyur berasal dari kebiasaan masyarakat Arab Jahiliyah yang menjadikan arah terbang burung sebagai pertanda baik atau buruk sebelum melakukan suatu pekerjaan. Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim diperintahkan untuk menghadapi berbagai ujian dengan doa, ikhtiar, dan tawakal, bukan dengan ritual-ritual buang sial yang tidak memiliki dasar dalam agama.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat