Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-19 18:34:36

JAKARTA - Indonesia tengah memasuki fase ageing population dengan jumlah penduduk lanjut usia (lansia) mencapai sekitar 34 juta jiwa atau hampir 12 persen dari total populasi. Kondisi ini diperkirakan akan mengubah pola perawatan lansia dalam beberapa tahun ke depan, terutama ketika semakin banyak anggota keluarga tinggal berjauhan dan jumlah tenaga perawat profesional masih terbatas.
Head of Physical AI Product Agora, Xiao Dong Feng, menilai teknologi Physical AI dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu keluarga Indonesia merawat orang tua tanpa menghilangkan peran manusia. Dalam wawancara eksklusif bersama SINDOnews, Xiao menegaskan bahwa Physical AI bukanlah teknologi yang dirancang untuk menggantikan keluarga, melainkan menjadi lapisan dukungan agar lansia tetap mandiri sekaligus membantu mengurangi beban caregiver. "Saya tidak melihat Physical AI sebagai pengganti pola perawatan lansia berbasis keluarga yang selama ini menjadi bagian penting masyarakat Indonesia. Sebaliknya, teknologi ini menjadi infrastruktur pendukung agar pola tersebut tetap berjalan di tengah meningkatnya tekanan demografi dan ekonomi," ujarnya.
Menurut Xiao, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya meningkatnya jumlah lansia, tetapi juga perubahan struktur keluarga. Banyak anak bekerja di kota lain sehingga pengawasan terhadap orang tua menjadi semakin sulit dilakukan secara langsung. Karena itu, ia memprediksi pola perawatan lansia dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang akan lebih kolaboratif. Anggota keluarga, tenaga kesehatan, tetangga, hingga teknologi akan saling terhubung dalam satu ekosistem. "Teknologi membantu keluarga mengenali perubahan kecil sejak dini sebelum menjadi kondisi darurat. Tujuannya bukan mengawasi setiap gerakan lansia, tetapi mengetahui ketika ada perubahan penting dalam rutinitas mereka," katanya.
Xiao menjelaskan, Physical AI berbeda dengan chatbot AI yang selama ini dikenal masyarakat. Jika chatbot hanya menjawab pertanyaan melalui layar, Physical AI mampu memahami konteks lingkungan, mengenali kondisi pengguna, lalu mengambil tindakan sesuai situasi. Sebagai contoh, perangkat seperti tongkat pintar LGenie mampu memadukan percakapan suara dengan data lokasi, pergerakan pengguna, hingga kondisi sekitar untuk memberikan respons yang lebih tepat. Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada kecerdasan AI semata, tetapi memastikan perangkat tetap mampu bekerja secara real-time meski digunakan di luar ruangan, berada di tengah kebisingan, ataupun saat koneksi internet tidak stabil. "Pada Physical AI, keterlambatan respons atau kesalahan memahami situasi dapat memiliki risiko yang jauh lebih besar dibanding chatbot biasa," jelasnya.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat