Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-19 20:10:46

Keyakinan bahwa seseorang atau sesuatu di sekitar menjadi penyebab datangnya kesialan masih dipercaya banyak orang, mulai dari merasa dirinya membawa malapetaka bagi orang lain hingga meyakini angka tertentu seperti angka 13 sebagai angka sial, bahkan sebagian menghubungkan kegagalan dengan hari, tempat, atau peristiwa tertentu. Padahal, dalam ajaran Islam tidak dikenal konsep seseorang atau sesuatu membawa kesialan, dan keyakinan seperti ini dikenal dengan istilah at-thiyarah atau at-tathayyur, yaitu menganggap adanya pertanda buruk atau merasa bernasib sial karena sesuatu, yang menurut para ulama termasuk bentuk syirik ashghar (syirik kecil) karena dapat mengurangi kesempurnaan tauhid seorang Muslim. Perbuatan syirik merupakan dosa yang paling besar apabila tidak disertai taubat sebelum meninggal dunia, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS An-Nisa: 48).
Secara bahasa, at-thiyarah berasal dari ungkapan zajarath-thair yang berarti menerbangkan burung, karena pada masa Arab Jahiliyah orang-orang sering menggunakan arah terbang burung sebagai pertanda baik atau buruk sebelum melakukan suatu pekerjaan, namun dalam perkembangannya makna thiyarah menjadi lebih luas yakni meyakini adanya pertanda sial dari burung, binatang, angka, hari tertentu, seseorang, atau berbagai kejadian lainnya. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan bahwa thiyarah adalah perasaan bernasib buruk atau meramal datangnya musibah karena melihat burung, binatang, maupun hal-hal lain yang dianggap sebagai pertanda. Al-Qur'an juga mengisahkan bagaimana kaum Nabi Musa 'alaihissalam menuduh beliau sebagai penyebab kesialan mereka, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, 'Itu adalah karena usaha kami.' Tetapi apabila mereka ditimpa kesusahan, mereka menganggapnya sebagai kesialan yang disebabkan oleh Musa dan orang-orang yang bersamanya." (QS Al-A'raf: 131).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa mengaitkan musibah dengan seseorang atau sesuatu tanpa dasar merupakan kebiasaan orang-orang yang menyimpang dari petunjuk Allah, sebab Islam mengajarkan bahwa seluruh manfaat maupun mudarat hanya terjadi dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan manfaat atau bahaya di luar kehendak-Nya.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat