Diterbitkan oleh Penulis

Berpikir Sial Ternyata Berbahaya, Ini Penjelasannya

Tanggal Terbit: 2026-09-20 02:19:54

Berpikir Sial Ternyata Berbahaya,<strong></strong> Ini Penjelasannya

Berpikir sial atau percaya pada kesialan ternyata sangat berbahaya dalam Islam karena termasuk perbuatan syirik dan menafikan tauhid. Ustaz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo, di laman resmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur menjelaskan thiyarah atau tathayyur didefinisikan dengan maa yutasyaa amu bihi, yakni sesuatu yang dianggap menjadi penyebab kesialan dan merupakan sikap pesimistis terhadap kondisi atau keadaan yang dihadapi.

Masalah thiyarah disebut dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim (muttafaqun alaihi) dari Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada keyakinan bahwa penyakit itu datang sendiri dan tidak boleh bersikap thiyarah. Sesungguhnya aku kagum dengan pikiran yang positif, yaitu perkataan yang baik.” Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H) menjelaskan kebiasaan orang Arab dahulu menerbangkan burung, jika terbang ke kanan dinamakan ‘saa-ih’ dan dianggap mujur, sedangkan terbang ke kiri disebut ‘baarih’ dan dianggap sial.

Yazid bin Abdul Qadir Jawas dalam kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menjelaskan tathayyur tidak terbatas hanya pada terbangnya burung saja, tetapi juga pada nama-nama, bilangan, angka, orang-orang cacat dan sejenisnya. Semua itu diharamkan dalam syari’at Islam dan dimasukkan dalam kategori perbuatan syirik oleh Rasulullah SAW karena orang yang bertathayyur menganggap hal-hal tersebut membawa untung dan celaka, keyakinan yang menyalahi ketentuan Allah Azza wa Jalla.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (wafat th. 1421 H), tathayyur adalah menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau yang diketahui, seperti melihat sesuatu yang menakutkan, mendengar burung gagak, atau mengetahui tanggal dan angka. Tathayyur menafikan tauhid dari dua segi: pertama, orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah dan bergantung kepada selain Allah; kedua, ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan merupakan takhayul serta keragu-raguan.

Ibnul Qayyim menuturkan bahwa orang yang bertathayyur itu tersiksa jiwanya, sempit dadanya, tidak pernah tenang, buruk akhlaknya, dan mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka menjadi orang yang paling penakut, paling sempit hidupnya dan paling gelisah jiwanya, banyak memelihara hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mudharat, serta tidak sedikit yang kehilangan peluang dan kesempatan untuk berbuat kebajikan.

    Peringkat Populer

    Tautan Sahabat