Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-20 13:22:32

Muhammad Roem dalam tulisannya berjudul H. Agus Salim yang dimuat di Prisma No. 8 1977 menggambarkan kepemimpinan H. Agus Salim dengan mengutip pepatah Belanda, "Leiden is lijden", memimpin adalah menderita. Roem menyaksikan langsung kehidupan H. Agus Salim sebagai pemimpin yang terlalu sederhana, bahkan bisa disebut miskin. Prof. Schermerhorn, pemimpin delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, pernah menulis dalam catatan hariannya bahwa Agus Salim adalah orang jenius dalam bahasa karena fasih menguasai sembilan bahasa, namun satu kelemahannya sebagai pemimpin adalah hidup melarat.
H. Agus Salim merupakan pemimpin organisasi Islam terbesar ketika itu, Syarikat Islam, dan berkali-kali menjadi Menteri Luar Negeri pada kabinet Sjahrir dan Amir Syarifudin. Namun standar kehidupannya demikian sederhana, bahkan Roem menceritakan H. Agus Salim pernah tinggal di rumah sangat sederhana dalam gang kecil dan sempit Jakarta. H. Agus Salim sejatinya meneladani gaya kepemimpinan Rasulullah, dan sebagai ulama serta salah seorang guru dari Buya Hamka, ia jelas mengenali rekam jejak keteladanan kepemimpinan Rasulullah.
Ketika memasuki usia 37 tahun, Muhammad memilih pensiun di tengah kariernya sebagai manajer marketing yang sukses mengelola bisnis istrinya, Khadijah, dan banyak menghabiskan waktu merenung di Gua Hira memikirkan kondisi masyarakat Mekah yang rusak. Saat berusia 40 tahun, Jibril datang membawa wahyu dan fase kehidupan Muhammad sebagai rasul dimulai, dengan seluruh harta dilaburkan untuk perjuangan dakwah Islam. Rasulullah menjalani kehidupan sangat sederhana hingga memimpin umat hijrah ke Yatsrib dan mendirikan negara Madinah, dengan standar kehidupan sebagai kepala negara yang sederhana sampai Sayidina Umar menangis menyaksikan punggung Rasulullah terdapat bekas pelepah kurma karena tidur beralaskan pelepah kurma.
Di sebelah Masjid Nabawi terdapat museum yang menampilkan replika rumah Rasulullah berukuran hanya 3,5 x 5 meter persegi, tempat beliau tinggal bersama istri tercintanya, Sayidah Aisyah, dan rumah-rumah istri lainnya nyaris sama ukurannya. Istri-istri Rasulullah menggambarkan, "Jika ada yang dimakan hari itu, Rasulullah makan. Namun, jika tidak ada yang dimakan, beliau puasa." Hingga akhir hayatnya, Rasulullah tidak mewariskan harta bagi ahlul baitnya, dan rumah yang sangat sederhana itu melahirkan peradaban Islam yang besar.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat