Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-19 20:17:35

Loyalitas kepada pemimpin menjadi landasan penting dalam prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, yakni wajib taat kepada Ulil Amri selama mereka memerintahkan ketaatan kepada Allah dan melarang kemaksiatan kepada-Nya.
Hujjatul Islam, Al Imam Muhammad bin Muhammad Al Ghazali atau Imam Al Ghazali dalam maha karyanya Ihya’ Ulumuddin menyatakan: "Kekuasaan dan agama merupakan dua saudara kembar. Agama sebagai landasan dan kekuasaan sebagai pengawalnya. Sesuatu yang tidak memiliki landasan pasti akan tumbang. Sedangkan sesuatu yang tidak memiliki pengawal akan tersia-siakan." (Abu Hamid al-Ghazali, Ihyâ Ulumiddin, tt, Beirut: Darul Ma’rifah, Juz 1, h. 17).
Amirul mukminin, Umar bin Khatab Radhiyallahu'Anhu juga menyatakan: "Tidak ada agama tanpa jama’ah/organisasi, tidak ada organisasi tanpa kepemimpinan dan tidak ada kepemipinan tanpa kepatuhan". Dua dalil ini menjelaskan tentang pentingnya loyalitas pada pimpinan dalam sebuah organisasi atau institusi kepemerintahan.
Suatu hari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam ditanya tentang seorang pemimpin yang selalu menuntut haknya pada stafnya agar selalu didengar dan ditaati, tetapi ia tidak mau memberikan hak para staf dan orang lain. Nabi menunjukkan raut muka yang tidak suka, tetapi orang yang bertanya itu mengulang-ulang terus pertanyaannya. Nabi akhirnya menjawab: "Dengarkan apa yang mereka katakan, dan patuhi perintah mereka. Mereka hanya bertanggung jawab atas apa yang dibebankan kepada mereka dan apa yang ditugaskan kepada mereka, atas keadilan dan memberikan hak-hak kepada subyek, dan Anda bertanggung jawab atas apa yang diperintahkan kepada Anda, yaitu ketaatan, pelaksanaan hak, dan kesabaran dalam menjalankan tugas" (HR Muslim).
Hadis ini mengisyaratkan bahwa pimpinan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan terhadap staf dan rakyatnya. Pemimpin menanggung beban atas kepemimpinannya di hadapan Allah sementara anak buah, staf dan rakyat akan menanggung beban pertanggungjawaban atas kewajiban loyal pada pimpinan. Artinya, sebenci apapun kita pada pimpinan, sedzalim apapun pimpinan kita selama tidak diperintahkan maksiat, kita wajib loyal karena loyalitas itulah yang akan kita pertanggungjawabkan sebagai anak buah.
Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: "Taat kepada Ulil Amri (pemerintah) dalam hal-hal yang diridai Allah ‘azza wa jalla dan meninggalkan (ketaatan kepada mereka) pada hal-hal yang dimurkai Allah. Meninggalkan sikap khuruj (memberontak) ketika pemerintah bersikap sewenang-wenang dan tidak adil. Bertaubat kepada Allah agar pemerintah bersikap kasih sayang terhadap rakyatnya."
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat