Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-19 20:11:31

Rabu 12 Agustus 2026 besok merupakan Rabu terakhir bulan Safar dalam Kalender Hijriyah, yang populer disebut Rebo Wekasan dalam Kalender masyarakat Jawa. Sebagian orang ahli makrifat termasuk ahli mukasyafah menyatakan setiap tahun Allah menurunkan bala (bencana) berjumlah 320.000, dan kesemuanya diturunkan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Abdul Hamid Quds adalah salah satu yang berpendapat demikian, sebagaimana disampaikan dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur, sehingga menurutnya besok menjadi hari terberat di sepanjang tahun.
Disebutkan bahwa barang siapa melakukan salat 4 rakaat (nawafil, sunnah), di mana setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali, lalu setelah salam membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun. Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan hijriyah Islam, dan sebagaimana bulan lainnya merupakan bulan dari bulan-bulan Allah yang tidak memiliki kehendak serta berjalan sesuai dengan apa yang Allah ciptakan untuknya.
Masyarakat jahiliah kuno termasuk bangsa Arab sering mengatakan bahwa bulan Safar adalah bulan sial, dan tasa'um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliyah dengan sisa-sisanya masih ada di kalangan muslimin hingga saat ini. Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah SAW, "Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa." (HR Imam al-Bukhari dan Muslim).
Ungkapan hadis laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu bermaksud meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit dapat menular dengan sendirinya tanpa bersandar pada ketentuan takdir Allah. Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah, dan penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah. Namun, walaupun keseluruhannya kembali kepada Allah bukan semata-mata sebab penularan, manusia tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala musibah, sebagaimana dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda: "Janganlah unta yang sakit didatangkan pada unta yang sehat."
Maksud hadis laa thiyaarata atau tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk adalah bahwa sandaran tawakkal manusia itu hanya kepada Allah, bukan terhadap makhluk atau ramalan, karena hanyalah Allah yang menentukan baik dan buruk, selamat atau sial, kaya atau miskin.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat