Diterbitkan oleh Penulis
Tanggal Terbit: 2026-09-19 16:40:47

Asal-usul nama Suro disebut berkaitan erat dengan istilah Asyura atau hari ke-10 Muharram dalam kalender Islam. Peneliti budaya Jawa Muhammad Solikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa menjelaskan bahwa kata "Suro" berasal dari bahasa Arab "Asyura" yang berarti "sepuluh". Istilah tersebut merujuk pada tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam, di mana pada hari itu terdapat berbagai peristiwa penting yang disebutkan dalam literatur Islam. Dalam tradisi sebagian masyarakat Muslim, Hari Asyura juga dikenal sebagai hari yang dianjurkan untuk berpuasa sebagaimana dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Dalam perspektif Islam, Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan karena Allah SWT menyebutnya sebagai bagian dari empat bulan haram atau bulan suci bersama Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh pada bulan ini, seperti berpuasa, bersedekah, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak zikir. Adapun berbagai tradisi budaya yang berkembang di masyarakat tentang tradisi malam 1 Suro dapat dipandang sebagai bagian dari warisan sejarah dan kearifan lokal, selama tidak bertentangan dengan ajaran tauhid dan syariat Islam.
Malam 1 Suro pada akhirnya bukan sekadar peristiwa pergantian tahun dalam kalender Jawa. Di baliknya tersimpan sejarah panjang akulturasi budaya dan Islam yang diwariskan sejak masa Sultan Agung hingga terus dikenang oleh masyarakat Jawa sampai sekarang.
Konten Terkait
Baca Acak
Peringkat Populer
Tautan Sahabat