Diterbitkan oleh Penulis

1 Muharram dan 1 Suro, Samakah? Ini Penjelasannya

Tanggal Terbit: 2026-09-20 01:20:10

1 Muharram dan 1 Suro,<strong></strong> Samakah? Ini Penjelasannya

Malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa memang sering disamakan dengan 1 Muharram dalam Kalender Hijriah, namun keduanya memiliki perbedaan mendasar pada sistem tahun dan penamaan bulan meski sama-sama mengacu pada sistem Qamariah atau lunar berbasis perputaran bulan. Bulan pertama dalam Kalender Hijriah disebut Muharram, sementara penanggalan Jawa dibuka dengan bulan Sura atau Suro yang malam tahun barunya dianggap sakral oleh masyarakat Jawa. Perayaan malam 1 Suro dilakukan dengan beragam cara di berbagai tempat, seperti kungkum atau berendam di sungai besar, sendang, atau sumber mata air tertentu, serta mandi kembang.

Tradisi malam 1 Suro bermula pada zaman Kerajaan Mataram Islam saat diperintah oleh Mas Rangsang atau Sultan Agung Hanyokrokusumo yang berkuasa sekitar 1613-1645, ketika Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya pada awal abad ke-17. Saat itu masyarakat banyak mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu, sehingga Sultan Agung berusaha menanamkan agama Islam di Jawa dengan memadukan Kalender Hijriah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih digunakan di pedalaman. Pada 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung mengeluarkan dekrit yang mengganti penanggalan Saka berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar, namun angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan tanpa menggunakan perhitungan tahun Hijriah yang saat itu bertepatan dengan 1035 H.

Keputusan ini diambil demi asas kesinambungan sehingga tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa, yang akhirnya menciptakan Kalender Jawa Islam dan berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram meliputi Pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia, dan Banyuwangi (Balambangan). Riwayat lain menyebut Sunan Giri II berada di balik sistem Kalender Jawa dengan membuat penyesuaian antara sistem kalender Jawa dan Hijriah pada tahun 931 Hijriah atau bertepatan dengan 1443 tahun Jawa baru pada masa pemerintahan kerajaan Demak, sebagai upaya memperkenalkan kalender Islam pada masyarakat Jawa. Sultan Agung kemudian ingin rakyatnya bersatu untuk memerangi Belanda di Batavia sekaligus menyatukan Pulau Jawa tanpa terbelah oleh keyakinan agama, sehingga pada tiap Jumat Legi laporan pemerintahan setempat dilakukan sambil digelar pengajian oleh penghulu kabupaten, ziarah kubur, serta haul ke makam Giri dan Ngampel.

    Peringkat Populer

    Tautan Sahabat